Total Tayangan Halaman

Selasa, 17 Juni 2014

26


Masih soal Rama, sahabat baikku, ia sedang berusaha bangkit sekarang. Ia menuliskan sebuah surat yang membuatku ingin mempublikasikannya di blog pribadi ini.
"Tidak perlu memperkenalkan diri pasti sudah tahu siapa saya.Saya di sini cuma ingin menyampaikan beberapa hal saja terkait seorang perempuan paling sempurna, yang saya rasa penting untuk anda.
1. Ia setiap hari rata-rata tidur jam 10 malam dan bangun jam 4.30 pagi. Dirinya adalah seseorang yang sulit menahan kantuk,biarkan ia beristirahat ketika mengaku ngantuk.
2.Hari Minggu adalah hari di mana dirinya akan membersihkan rumah selama setengah hari.
3. Ia biasa tidur siang antara jam 2-3.30 sore
4. Ia adalah seorang Cancer yang setia,bila ia telah menyatakan komitmen untuk seseorang,ia akan mendedikasikan hatinya sepenuh hati untuk orang tersebut.Jadi jangan pernah khawatir ia berpaling dari anda.
5.Dia sangat menyukai es krim,terutama yang rasa cokelat.Jangan pernah membelikan cornetto blueberry,dia tidak suka.
6. Ia biasanya akan sakit flu tiap 2-3 bulan sekali,jangan segan-segan untuk memaksanya secara halus agar mau minum obat dan istirahat ketika sedang sakit.
7. Ia akan seringkali mengeluh merasa gendut,jangan pernah sekalipun mengiyakan/menyetujui keluhannya di topik ini.
8. Jangan pernah lupa untuk mengucapkan selamat tidur dan selamat pagi setiap hari,ia senang mendapat perhatian yang cukup.
9.Bila sudah sayang dengan seseorang,kadang ia akan merasa curiga bila orang kesayangannya pergi bersama rombongan yang ada perempuannya.Rutinlah berkirim pesan singkat untuk dirinya ketika sedang berkumpul bersama teman teman. Kekhawatirannya bersumber pada perasaan takut kehilangan,jangan marah terhadapnya.
10.Berilah kabar,dan tanyakan kabarnya secara rutin,2 jam sekali,dan jangan pernah membalas pesan singkatnya lebih dari tempo 4 jam,karena itu akan membuatnya khawatir.
11.Tepatilah janji yang dibuat untuknya,sekonyol apapun janji itu.
12. Ia adalah gadis rumahan yang punya hasrat terpendam untuk berpetualang,ia akan sangat bahagia diajak ke tempat menarik yang belum pernah dikunjunginya.
13.Bila sedang sakit,terutama flu ia akan bandel untuk mengkonsumsi pantangan seperti es dan makanan pedas,tegaslah dalam hal ini.
14.Dalam keadaan terpuruk, ia akan membutuhkan perhatian dalam kadar lebih dari biasanya.Kuatkanlah ia di kala lemah,maka ia akan bangkit, dan akan menguatkan anda di kala terpuruk.
15. Jangan merokok,ia benci rokok dan lelaki yang menghisap batang rokok.
16. Ia adalah gadis yang sangat menyukai kejutan,sering seringlah memberi kejutan,dalam interval waktu berjarak panjang.
17. Ia adalah pendengar yang baik,ia suka mendengar dan mencerna berbagai materi pembicaraan yang substantif dan padat.Jangan lupakan humor,ia suka mendengar cerita lucu,apalagi dari orang yang dikasihi.
18.Ia bukan tipe perempuan yang suka banyak bercerita kesehariannya,ia hanya akan bercerita bila ada sesuatu di luar regularitas rutinitasnya. Jangan memaksanya, ia adalah tipe pendengar yang baik ketimbang pencerita yang hebat.
19.Kadang-kadang ia akan menceritakan cerita lucu secara agak kaku,tertawalah sebagai bentuk penghormatan usahanya membuat orang terkasih tertawa.
20.Di kurun waktu tertentu yang sangat jarang terjadi,kadangkala mood-nya menjadi fluktuatif dan cenderung eruptif,bersabarlah,hanya soal waktu sebelum ia sadar dan kembali seperti semula.
21. Ia sangat sensitif mengenai kesetiaan,jangan pernah sekalipun terpikir untuk mengkhianati kepercayaannya.
22. Ia adalah perempuan terhormat yang taat pada agama,jangan pernah memaksanya melakukan sesuatu yang ia tidak sukai. Ia sangat bisa menjaga diri untuk menghindari hal hal yang dilarang agama.
23. Jangan pernah terlambat ketika sudah menentukan waktu untuk bertemu,batas toleransi adalah 240 detik.
24.Bila sudah berkomitmen terhadap seseorang,ia akan mendedikasikan sepenuh hatinya terhadap orang tersebut,mendoakannya setelah Shalat,dan memikirkannya setiap waktu,balaslah komitmennya dalam taraf yang setara,usahakan lebih.
25. Ia dulu sempat bilang menginginkan emas putih dengan motif lumba lumba sebagai cincin nikah. Penuhilah keinginannya, kebahagiannya bersumber dari segala upaya untuk menyenangkannya.
26.Anda telah mendapatkan kasih sayang tanpa perlu bersusah payah dari seorang perempuan terbaik di antara 240 juta penduduk Republik ini,sekaligus mendapat kepercayaan dari orang tuanya...
Jangan pernah kecewakan dirinya
Jangan pernah membuatnya sedih
Jangan pernah mengkhianatinya
Kembangkanlah senyum di bibirnya, buatlah ia tertawa, kuatkan ia ketika lemah, tabahkan ia ketika sedih, jadikanlah kebahagiaannya sebagai prioritas utama dalam keseharian anda.
Saya rasa cukup sekian,komitmen saya membangun hubungan dengannya dulu adalah untuk membuatnya bahagia,bila memang kebahagiaan ia yang sempurna adalah bersama anda,jangan pernah sekalipun mengecewakan ekspektasinya.
Tidak perlu dan jangan pernah membalas pesan ini,dan tak perlu menjalin komunikasi lebih jauh dengan saya.
Saya tidak merasa perlu mengenal dan berteman dengan anda baik di jejaring sosial,maupun dunia nyata."

Rabu, 28 Mei 2014

(2035) Days of Tyas



Tempo hari, aku bertemu dengan seorang sahabat dekat setelah lama tak bersua, sebut saja Rama. Ia terkenal cukup eksentrik dengan gaya sok ceplas ceplos bicara kesana kemari seakan tahu semuanya. Setelah berteman cukup lama, persahabatan di antara kami terjalin dengan erat, sehingga kami cukup memahami satu sama lain tanpa perlu menjadi gay.
Rama tampak sangat murung beberapa waktu terakhir, setelah ditelusuri, ternyata ia mengalami gejala penyakit anak muda dalam hal asmara, patah hati. Ia bercerita mengenai fluktuasi hubungannya dalam rentang waktu 2035 hari, 48.840 jam, 2.930.400 menit, dan 175.824.000 detik yang ia jalani bersama gadis pujaan. Waktu yang cukup untuk membeli sebuah kendaraan roda empat melalui cara kredit. Kalkulatif, keeksentrikannya memperhitungkan segala sesuatu walaupun kurang pintar di pelajaran Matematika membuat ia seringkali dicap pelit oleh beberapa temannya.
Rama telah menjalin hubungan cukup lama dengan seorang gadis jelita bernama Tyas. Seorang gadis yang ia cintai sejak warna seragamnya putih abu-abu. Tyas adalah seorang gadis yang cantik, pendiam namun atraktif, memiliki selera gaya berbeda dari kebanyakan gadis muda lain, taat beragama, patuh pada orang tua, dan memenuhi kriteria putri idaman sekaligus menantu bayangan banyak orang tua. Di masa putih abu-abu, sudah banyak teman seangkatan Rama dari berbagai sekolah mencoba mendekati Tyas, semua gagal.
Rama sendiri adalah seorang cupu yang dikategorikan eksentrik karena hampir putus urat malunya. Ia berjuang merebut perhatian Tyas selama masa putih abu-abu dengan soundtrack, What Can I do To Make You Love Me dari The Corrs. Ia bersaing ketat dengan beberapa kandidat lain yang secara intensif melakukan lobi untuk memenangkan hati Tyas. Rama tidak gentar, dengan koalisi beberapa rekan, dan serangkaian lobi secara personal, ia memulai sebuah misi untuk memenangkan hati sang Mahadewi.
Perjuangan Rama di masa putih abu-abu terpengaruh oleh berbagai elemen roman picisan tentang bunga, cokelat, puisi, lagu, artikel, buku, film dan kejutan. Ia benar benar mengaransemen sebuah lagu, membawakan cokelat, membuat puisi, menulis skrip dan menyutradari sebuah film, menulis artikel mengenai deskripsi perasaannya, membeli buku berjudul sama dengan Tyas, dan mempersiapkan kejutan ulang tahun untuk gadis pujaan.
Namun, apa daya, segala usahanya gugur, hati Tyas kukuh dan kuat seperti Tembok China yang menahan segala serangan dari kaum barbar Mongol. Tyas bergeming dan dingin menghadapi Rama, banyak rekan mengasihani Rama, tapi ia tidak peduli. Banyak orang menasehatinya untuk mundur saja, Rama pantang menyerah, ia terdiam menghadapi tembok China dan memikirkan strategi baru (setelah rangkaian aksi sebelumnya gagal) sambil menjaga jarak. Terminologi yang tepat untuk menggambarkan Rama adalah keras kepala, seakan tidak ada otak, melainkan batu di kepalanya, sehingga keras kepalanya. Ia mengubah taktik untuk menjadi lebih pasif dan mengakhiri masa SMA tanpa pernah mengutarakan perasaannya secara harfiah kepada Tyas. Dugaan kuat pribadi, sepertinya Rama menderita Obsesif Kompulsif ringan bila sel syaraf otaknya mendengar, mengingat, atau melihat Tyas. Masa Ujian akhir yang semakin mendekat memaksanya merubah orientasi prioritas.
Masa putih abu-abu berakhir, mereka berdua lulus, Rama akhirnya diterima di universitas kere (karena almamaternya sewarna dengan karung goni) dengan jurusan yang masih asing di telinga awam, kami menempuh perguruan tinggi di kota yang sama, kos yang sama pula. Sementara itu, Tyas diterima di universitas ternama (pada tingkat provinsi) di jurusan Pendidikan anak usia agak lucu tapi mulai bandel. Kini terbentang jarak antara Rama dan Tyas sejauh   132 kilometer, Rama di kota budaya, sementara Tyas di kota industri. Pun, Rama selalu GR karena merasa dekat dengan Tyas, walau Tyas sama sekali tidak merasakan kedekatan itu.
Di masa kuliah, Rama yang pantang menyerah kembali melancarkan serangan udara terhadap tembok China. Berawal dari pesan singkat yang entah kenapa berbalas, terjadilah komunikasi intensif di antara dua insan ini. Hal yang cukup unik pada periode pasca putih abu-abu adalah, Tyas menjadi cukup terbuka terhadap Rama. Singkat cerita, pada suatu malam di pertengahan Oktober, Rama berteriak kegirangan di kamarnya, ia melompat-lompat di atas kasur dan berlarian di kamarnya. Matanya berbinar, senyumnya lebar, ia tampak sangat senang, seperti bocah umur tiga tahun membuka bungkus mainan. Ia memamerkan ponsel putih bututnya yang berisi pesan singkat, dari Tyas “Ram,luv u..”. Ikut berbahagia, kuucapkan selamat untuk sahabat karibku. Rama menjadi juara dari kompetisi ketat banyak pemuda lain yang berusaha memenangkan hati Rama. Dirinya adalah kekasih pertama Tyas, begitu juga sebaliknya. Ia melanjutkan lompatan girangnya hingga kelelahan dan tertidur lelap. Itulah hari 1, hari pertama ungkapan perasaannya dengan tindakan non-verbal dalam kurun waktu satu setengah tahun sebelumnya terbalas, ia resmi memulai hubungan dengan Tyas.
Berhasil mendapatkan gadis pujaannya, adalah sesuatu yang tampak seperti kemenangan Nazi atas Perang Dunia 2, tidak mungkin terjadi. Rama tampak ceria, perjuangannya berbuah manis. Ia mengubah analogi dari kaum Mongol dan Tembok China, menjadi Stalingrad, di mana keadaannya sekarang adalah pasukan komunis Soviet yang dengan (amat sangat) bersusah payah dan kekuatan tersisa mengalahkan prajurit Jerman di musim dingin. Berhasil mengamankan prioritas hidup dalam hal asmara, ia tak mau berlarut dalam euforia anak muda soal cinta. Rama fokus belajar di jurusan yang asing di telinga awam itu dan mengisi waktu luang dengan berorganisasi di beberapa bidang dan fokus melakukan riset. Kehadiran Tyas sebagai pendamping, walaupun jarak jauh, cukup mengubah hari-hari Rama. Ia menjadi lebih antusias dan sering mengatakan inspirasi baru dalam hari-harinya adalah Tyas.
Walaupun tampak sibuk, Rama selalu meluangkan waktu untuk berkomunikasi via telepon dan pesan singkat setiap hari dengan gadis pujaannya. Peribahasa “Love is stronger than the miles between you”terimplementasi dengan cukup kuat. Teman-teman Rama sering mencemooh dirinya karena seringkali menyendiri di waktu istirahat kuliah, untuk memegang telepon dan berbicara panjang lebar sambil senyum-senyum sendiri seperti orang tak waras di pinggir jalan. Toh, ia tak peduli, apa saja kata orang, asalkan ia menjalin komunikasi yang lancar dengan Tyas.
Walau jurusan yang Rama tekuni seringkali membuatnya terdampar di daerah terpencil dalam kurun waktu lama, ia masih bisa mempertahankan komunikasi dengan mendaki dan berjalan cukup jauh untuk mencari segaris tanda sinyal di telepon selulernya, untuk sekedar menanyakan kabar Tyas. Bahkan ketika terbentang jarak jutaan kilometer karena perbedaan benua dan perbedaan waktu 4 jam pun, mereka mampu mempertahankan relasi. Dengan dukungan penuh dari Tyas, Rama menjalani berbagai kegiatan dengan bersemangat.
Beberapa kali Rama menemui jalan buntu dalam kepadatan kegiatan dan kuliahnya, dengan sabar Tyas memberikan dukungan dalam berbagai bentuk yang kreatif. Intensitas pertemuan mereka pun jarang, minimal sekali dalam waktu satu bulan mereka bertemu di kota kelahiran. Seringkali mereka menentukan jadwal kepulangan yang sama, agar bisa naik bus bersama. Kadangkala, Rama meluangkan waktu di antara kesibukannya yang padat untuk menaiki sepeda motor atau bus menempuh jarak 132 Kilometer hanya untuk mengembangkan senyum di bibir manis Tyas yang senang mendapatkan kunjungan tak terduga. Sesekali, Tyas hadir di akhir pekan untuk mengunjungi pantai bersama, menikmati film, mencoba masakan kuliner baru berdua, dan sekedar berjalan-jalan menyusuri kota sambil mengobrol dan tertawa. Rama tampak bahagia, begitu pula Tyas. Rama yang cerewet seperti burung beo tampak mampu membangun chemistry cukup kuat dengan Tyas yang pendiam.
Pernah suatu ketika, Tyas mengabarkan dirinya sakit dan tidak mau minum obat. Tanpa buang waktu Rama segera menempuh perjalanan 132 kilometer dengan sepeda motornya tanpa bercerita ke Tyas kalau dirinya akan datang. Akhirnya, pertemuan terjadi dan Tyas mau meminum obatnya, sekaligus senang mendapat kejutan. Didera kesibukan, Rama segera kembali ke kota budaya, dini hari ia sampai. Mukanya lelah, namun senyumnya mengembang lebar. Tak apalah perjalanan jauh, asal bisa menjenguk kekasih yang sedang tidak mau minum obat, katanya. Hanya gelengan kepalaku yang menjadi respon atas kalimat pendeknya itu.
Tahun tahun kebersamaan itu terus berlanjut, Rama dengan mulut besarnya seringkali membanggakan Tyas di hadapan koleganya. Tentang Tyas yang menurutnya paling cantik, semua gadis selain Tyas buruk rupa, Tyas paling manis, dan beberapa ungkapan lebay lainnya, seakan ia menjalin hubungan dengan seorang bidadari. Kesombongan yang agak menjengkelkan sebenarnya, tapi Rama selalu terlihat antusias dan serius. Ketika membanggakan kekasihnya itu, matanya tidak mengindikasikan kebohongan. Perkiraan pribadi, Soundtrack dari perasaan Tyas adalah lagu Malique and D’essentials yang berjudul Dia.

"dia seperti apa yang selalu kunantikan, aku inginkan
dia melihatku apa adanya seakan ku sempurna
dia bukakan pintu hatiku yang lama tak bisa
percayakan cinta hingga dia disini
memberi cinta ku harap"

Di kala mereka sedang berkumpul bersama teman-temannya, Rama akan membanggakan Tyas, Tyas hanya akan tersenyum jengkel karena malu sambil mencubit lengan Rama. Lucu, secara karakter, Tyas adalah Times New Roman dengan kurva garis lurus, tegas, dan kaku. Sementara itu, Rama adalah Comic Sans, dengan kontur tak beraturan yang unik. Tapi entah bagaimana dua karakter dalam Microsoft Word tersebut mampu berdampingan dalam chemistry yang terpadu. Tyas adalah teh kering sementara Rama adalah gula yang keras, hubungan mereka adalah air putih yang menghubungkan dua zat terpisah itu.
Hari hari itu terus berlanjut, terkadang terjadi pertengkaran di antara mereka seperti pasangan pada umumnya. Hal hal sepele yang menjadi pemicunya, sms tak berbalas, terlalu sibuk dengan organisasi dan teman, juga kebiasaan bangun kesiangan. Seperti pasangan pada umumnya, mereka juga cepat berimprovisasi, mengenal kebiasaan buruk masing-masing dan menghindari pemicu pemicu pertengkaran. Masa perkuliahan akhirnya berakhir dengan hubungan mereka yang saling menguatkan, dengan fluktuasi hubungan dalam kategori stabil. Mereka diwisuda hampir bersamaan, satu hal yang sangat disesali Rama, ia tak bisa menghadiri ujian Tyas karena sedang ada urusan yang tak bisa ditinggal.
Selepas wisuda, Tyas kembali ke kampung halaman untuk menjadi pendidik. Sementara itu Rama mengejar cita-cita untuk mendapat beasiswa dan melakukan studi lanjutan. Sayangnya, di tengah jalan, Rama harus memutar langkah dan kembali ke kampung halaman. Pilihan yang cukup berat untuk meninggalkan kota budaya. Rama menghabiskan waktu di kampung halaman menjalani misi khusus, poin positif adalah intensitas pertemuannya dengan Tyas meningkat drastis. Mereka tak lagi menjalani hubungan jarak jauh.
Setiap pulang sekolah, Rama selalu menyempatkan waktu untuk makan siang bersama Tyas. Hari-harinya yang mendung karena putaran langkah yang diambil menjadi sedikit lebih cerah dengan adanya Tyas. Begitupun sebaliknya, Tyas menjadi senang karena mereka tak lagi menjalani hubungan jarak jauh. Intensitas pertemuan yang tinggi pun kadang diselingi oleh Rama yang bepergian jarak jauh dalam rentang waktu lama untuk panggilan kerja. Hingga akhirnya masa karier serius dimulai, Rama diterima sebagai pelayan masyarakat di institusi hura-hura. Sementara itu, Tyas diterima sebagai pegawai tetap institusi pendidikan yang terhormat. Sayangnya mereka harus terpisah oleh jarak lagi. Rama harus tinggal di ibukota kandang ayam, sementara Tyas tinggal di kampung halaman yang nyaman. Rama dan Tyas telah memantapkan diri, mereka telah yakin satu sama lain untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Sebuah pertanda baik, ia ceria menyampaikan keseriusan hubungannya kepadaku.
Akhirnya dimulailah tahapan baru dalam hubungan mereka, tahap hubungan jarak jauh dalam rentang jarak 552 kilometer, dan sekitar 12 jam perjalanan darat. Seperti hubungan jarak jauh sebelumnya, mereka menjalin komunikasi intensif. Namun kini Rama cukup tersita waktunya dengan kesibukan kerja dan kepadatan kota kandang ayam. Untung saja Tyas selalu bersabar dan menyemangati, setiap hari, setiap, pagi, siang, dan malam. Pasangan yang membuatku iri, dengan kebersamaan dan perhatian tanpa memandang jarak.
 Hingga akhirnya badai itu datang…
Tempo hari, kulihat Rama menyetir mobil dan berhenti di sebuah perempatan di kampung halaman. Kepalanya menoleh ke jok kiri yang kosong, sepintas kulihat Rama tersenyum kecut. Entah kenapa, pipinya terlihat basah, ia laki-laki lucu yang sangat tangguh selama ini.
 Tak pernah kulihat segala daya listrik energinya mendadak mati seperti ini. Aku ajak dirinya untuk bertemu. Tak biasa, langkahnya gontai, tatapannya tertunduk dalam sudut 45 derajat dalam langkah kaki menuju rumahku. Tak tampak senyum lebar mengembang di bibirnya, tatapannya kosong, wajahnya lesu, matanya sembab agak kemerahan, ia tampak sangat terguncang. Dengan singkat ia bercerita, “Tak bisa dilanjutkan lagi sepertinya”. Segera aku paham maksudnya, hubungannya dengan Tyas tak lagi berlanjut, kutepuk pundaknya pelan menguatkan.

Rama adalah laki-laki dengan dua prioritas sebagai fondasi utama hidupnya, Ibu dan Tyas. Kini ia kehilangan salah satunya, struktur bangunan semangat dan antusiasme dalam dirinya roboh seketika. Ia tertunduk dan sesekali mendongak, bibirnya terkatup, tak lagi mengeluarkan suara berisik dengan berbagai banyolan kocak. Beberapa kali ia merasakan kemarahan dan kekecewaan, ia hanya akan bersikap diam, menutup diri dan menghindari bertemu orang orang. Namun ada yang berbeda kali ini, gesturnya menyiratkan kepedihan mendalam, bahunya tak lagi tegak, seakan ada dua karung berisi semen di tiap sisinya. Kondisinya mengingatkanku akan karakter Tom dalam (500) Days of Summer , ia tampak linglung dan mengalami disorientasi. Sebenarnya pasangan ini pernah putus 2-3 kali sebelumnya,tapi tidak pernah reaksinya seperti ini.
Rama mulai bercerita, bibirnya bergetar. Ternyata ada pihak tertentu yang memiliki legitimasi atas pilihan Tyas tak bisa menerimanya sebagai pendamping. Ironis, Rama harus menanggung kesalahan yang tak pernah dilakukan, kesalahan yang selama ini ia tentang sekuat tenaga. Latar belakang kehidupannya seakan menjadi bayangan dari diri Rama, tak akan pernah bisa lepas, selamanya. Posisinya sekarang seperti penerus korban genosida dan diskriminasi mereka yang tertuduh merah di era 1966. Tuduhan miring melekat dirinya secara otomatis, tanpa ia kehendaki, tanpa ia mau. Seakan-akan di KTPnya ada tanda khusus menandakan ia bukan bagian dari kebanyakan orang yang layak menjadi bagian dari kelas terhormat. Rama ada di sebuah persimpangan yang menyakitkan, di mana semua pilihan tertutup rapat oleh bayangan yang mau tidak mau terpaksa ia tanggung.
Dalam sebuah kesempatan yang sangat jarang, kulihat ia pesimis, ia menyiratkan keputusasaan. Tangannya mengusap matanya pelan, dan untuk pertama kali, kulihat ia mengeluarkan air mata. Rama, laki laki lucu yang selalu mendukungku di saat aku sedang tak berdaya, yang sekalipun tak pernah kulihat bersedih,kini dalam kondisi setertekan ini. Ia tidak pernah curhat mengenai masalah pribadinya, Rama selalu berusaha untuk menguatkan kolega, dan tak berbagi tentang masalahnya. Kutepuk pundaknya, tak tahu harus mengungkapkan apa.
“Apa langkahmu selanjutnya?”
Tanyaku pelan, ia menggeleng kepala pelan.
“Ada satu pertanyaan yang Tyas ajukan, dan belum kujawab dengan jelas karena kesibukan…”
Ucapnya terisak,
“Apa sih yang bikin kamu ingin terus bertahan denganku?, begitu pertanyaannya”
“Apa jawabanmu, Ram?”
“Aku ingin mempertahankannya, karena ialah yang paling sempurna dalam ekspektasiku, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, her imperfection is a perfection itself. Karena aku yakin dirinyalah yang terbaik untukku dalam segala kekurangan yang sudah aku hapal dan kelebihan yang aku syukuri. Aku ingin mempertahankannya, karena dengan segala hal yang sudah kita lalui bersama, aku mantap kalau ia akan menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku dan menjadi pendamping yang setia bagiku, tak pernah sekalipun terpikir untuk berpaling darinya, dan Tyas tak pernah berpaling dariku. Yang paling penting, senyum, pesan singkat, tatapan mata, suara, telepon, dan akumulasi kebahagiaan darinya adalah sumber energiku untuk menjalani hari, mengejar mimpi…sulit membayangkan menjalani hari-hari dalam jangka panjang tanpa dirinya yang selalu mensupport penuh keadaanku” ucapnya sambil agak tersenyum sedikit mengingat hari hari indah di belakangnya. Dalam sekejap, senyum itu hilang, ia kembali tertunduk.
Aku sedih melihatnya, Rama yang begitu kuat, dalam sekejap menjadi begitu rapuh. Dirinya yang tak pernah menyerah dengan tujuan, kini menjadi lemas tak berdaya.
“Apa langkahmu selanjutnya?”
Tanyaku pelan, sambil menyuguhkan secangkir teh.
“Aku tidak tahu…aku bingung” ucapnya lirih, sekilas kulihat matanya.
Kuperhatikan lebih detail, kulihat masih ada setitik semangat di pancaran mata di antara puing-puing kerapuhannya. Ia akan bangkit, dan kembali berjuang, karena temanku, Rama Tak Pernah Mati, Tak Akan Berhenti bila telah menetapkan sebuah tujuan. Energi itu telah tercabik dengan sangat keras dan remuk, tapi tidak hancur. Ia bangkit dari kursi dan melangkah gontai pelan, entah kenapa pancaran energi yang tadi sekilas kulihat kini terlihat samar. Apakah ia benar benar putus harapan kali ini?
“Every second from one hundred seventy five million, eighty hundred twenty four thousand second  I spent with her in past, is a worth time to spent. It filled with laugh, care, smile, love, kindness, and sweet memory…I truly love her from deep inside my heart and couldn’t think any way of life without her stood by my side”pesan singkat Rama dalam perjalanan pulang.

Senin, 26 Maret 2012

MAHASISWA, LUPAKAH KITA?

(Artikel ini adalah manifesto semangat Cogito ergo sum dan Scripta Manent sekaligus kritik untuk diri saya sendiri)

BBM naik tinggi
Susu tak terbeli…orang pintar tarik subsidi…
Anak kami kurang gizi
(Iwan Fals-Galang Rambu Anarki)

Beragam reaksi dituai oleh pemerintah karena rencana menaikkan harga Bahan Bakar Minyak pada tanggal 1 April nanti. Demonstrasi buruh di Jakarta menyita perhatian karena kuantitas massa-nya yang begitu besar. Di Yogyakarta, hampir setiap hari sejak minggu lalu rombongan mahasiswa menduduki pertigaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, mereka berkumpul dan mengekspresikan penolakannya. Di Makassar, kericuhan tak terelakkan saat demonstran terlibat bersitegang dengan kepolisian. Di berbagai kota lain, demonstrasi dengan variasi kuantitas massa terjadi di berbagai lokasi. Setiap ekspresi penolakan, adalah cermin dari kekhawatiran. Massa demonstrasi penolakan BBM adalah sebuah massa yang menurut puisi Radar Panca Dahana Massa tak bermasa
            Dilihat dari perspektif lain, media layar kaca, media cetak, maupun media maya memberitakan dukungan berbagai pihak terhadap kebijakan pemerintah menaikkan tarif BBM. Alasan mereka yang cukup rasional adalah harga minyak mengikuti harga di pasar internasional. Yang mengherankan, semua dukungan yang ditampilkan dalam media tersebut adalah golongan minor yang dalam perspektif umum termasuk dalam kategori mampu atau minimal terpenuhi kebutuhan dasarnya. Ya, secara visual mereka jelas mengenakan kemeja, jas, dan mengenakan pernak pernik jam atau sepatu mahal. Salut dengan kemauan mereka membantu meringankan beban anggaran pemerintah. Pada perspektif lain, wawancara terhadap tukang ojek, pedagang, dan masyarakat biasa menyiratkan keberatan mereka terhadap naiknya harga BBM. Ya, kesulitan yang sudah mereka alami kini akan terasa semakin sulit dengan adanya kenaikan berbagai harga.
Sementara itu di sisi lain, di mana posisi mahasiswa?. Sebelum berbicara jauh mengenai posisi, mari berbicara mengenai keseharian mahasiswa pada umumnya. Dalam menjalani studi, menurut salah satu dosen saya yang galak namun cerdas, kita hanya membayar kurang dari 20% dari keseluruhan total biaya yang harus ditanggung. Biaya SPP dan BOP yang dibayar oleh setiap mahasiswa pada tiap semesternya, sebenarnya sangat kecil dibanding total biaya yang sebenarnya. Pemerintah memberikan subsidi pendidikan yang begitu besar untuk perguruan tinggi, sadarkah kita dari mana uang tersebut?.
Pajak!ya, subsidi kita ditanggung oleh pajak masyarakat. Dari pajak ribuan rupiah di tiap pedagang pasar, pajak dari tanah petani, pajak yang dipotong dari gaji pegawai negeri sipil, pajak yang dibayar bahkan oleh golongan tak mampu. Lupakah kita, terhadap mereka yang menunjang biaya perkuliahan?. Lupakah, hutang budi kita terhadap masyarakat yang begitu besar, karena dukungan mereka yang tak terlihat di balik layar seluruh proses pendidikan yang sedang kita jalani?.
Banyak kejadian bersejarah, dalam taraf nasional maupun internasional, mahasiswa berperan sangat penting dalam menentukan jejak jangka panjang negara-bangsa. Sampai sekarang, kita memperingati 20 Mei sebagai hari kebangkitan nasional. 20 Mei adalah tanggal saat mahasiswa kedokteran di Jakarta membentuk organisasi perjuangan bernama Boedi Oetomo. Tahun 1965-1966, mahasiswa (yang banyak terkenang dalam sosok Soe Hok Gie) turun ke jalan melawan sang proklamator. 1979, di Teheran, mahasiswa berperan besar dalam revolusi republik Islam Iran. 1989, lapangan Tiananmen menjadi saksi bisu perjuangan mahasiswa China yang menuntut demokrasi. 1998, jutaan mahasiswa di berbagai penjuru Indonesia serempak turun di jalan, menumbangkan kekuasaan tiran. Tak heran mahasiswa dicap sebagai agen perubahan, mereka dianggap golongan netral di balik perlindungan tembok universitas yang mampu menyuarakan kritik fundamental tanpa tendensi partisan.
Namun, apa yang terjadi sekarang? dimanjakan oleh teknologi, mahasiswa kini lebih aktif melakukan proses konsumsi. Alih-alih membicarakan kondisi masyarakat atau dialektika teori akademis di bidangnya masing-masing, dalam proses studi mereka akan lebih sibuk membahas film terkini, telepon seluler dengan berbagai perangkat aplikasinya yang canggih, dan merebut panggung eksistensi dalam jejaring sosial di dunia maya. Data kemiskinan dalam level nasional hanya menjadi bahan obrolan ringan di sela makan siang, atau nongkrong di kafe ketika malam.
Dalam salah satu tugas perkuliahan, diadakan survey mengenai alokasi pengeluaran mahasiswa dari pengeluaran bulanan yang ada. Hasil survey membuktikan, mayoritas pengeluaran mahasiswa digunakan untuk membeli pulsa, makan, hiburan (nonton bioskop/konser/karaoke), fashion dan transportasi. Buku sendiri menjadi pilihan pusat pengeluaran yang sedikit (itupun karena ada tugas dan seringkali hanya foto kopi). Dilihat dari statistik pengeluaran anggaran, terlihat pola kehidupan mahasiswa kini.
Info mengenai gosip artis, skor sepak bola dari Eropa, berbagai produk baju baru dan diskon pusat perbelanjaan adalah topik utama obrolan yang harus ditindaklanjuti dengan tindakan nyata. Bila mendengar kabar diskon, tak sedikit mahasiswa yang bergegas mengeluarkan uang untuk berbelanja. Bila mendengar data kemiskinan, apakah kita akan tergerak untuk membantu mereka?. Kemiskinan kini dipahami oleh mayoritas mahasiswa sebagai kondisi, bukan implikasi. Secara ironis, mayoritas mahasiswa menjadi katalis perubahan dengan memilih posisi aman sebagai anti-oposisi. Padalah Karl Marx menyebut konflik sebagai resolusi untuk mencapai tahap kehidupan yang lebih baik/lebih tinggi daripada sebelumnya, dan konflik selalu intim dengan perubahan. Lupakah kita, dengan status sebagai agen perubahan?.
Lupakah kita, status sebagai mahasiswa didanai dari jerih payah sebagian penduduk republik, yang menurut Badan Pusat Statistik tahun 2011 menyebut 12,49% atau 30,02 juta orang masih dalam kondisi miskin?. Indikator kemiskinan yang ada pun sebenarnya masih diperdebatkan, karenanya diperkirakan kemiskinan yang ada lebih besar. Jalanan yang tadinya mimbar utama mahasiswa mengkritisi pemerintah, kini dengan ironis justru membuat sebagian dari mereka yang mempertahankan mimbar tersebut sasaran caci maki oleh mahasiswa lain. Keluhan jalan menjadi macet, merepotkan, berisik, stigma ekstrim kiri-ekstrim kanan dan berbagai hal lain menjadi latar belakang caci maki terhadap pihak yang masih mempertahankan mimbar tersebut. Lupakah kita, jalanan adalah saksi perubahan radikal dalam berbagai masa?.
Tak masalah sebenarnya bila ada yang mendukung kenaikan harga BBM dengan alasan penyehatan anggaran negara yang memang masuk akal. Setiap orang memiliki hak untuk mengemukakan pendapat dalam negara berasas demokrasi. Namun kita, sebagai mahasiswa, haruskah membebek terhadap apa yang eksekutif lemparkan sebagai kebijakan?. Ichsanuddin Nursi sebagai ekonom yang tidak diragukan kapabilitasnya menyebut betapa cacatnya kebijakan pemerintah kali ini.
Lupakah kita, kenaikan harga ini akan memberatkan sebagian besar rakyat Indonesia? lupakah kita, kenaikan harga BBM 30% akan memicu kenaikan berbagai harga barang pokok yang lain?. Lupakah kita, bahkan hingga kini, masih ada jutaan masyarakat Indonesia masih di bawah garis kemiskinan? Lupakah kita pemerintah masih tidak mampu mengurus kemiskinan? Lupakah kita, berbagai kebijakan di hulu, akan menciptakan efek dahsyat di hilir?.
Lupakah kita, mayoritas dari mereka yang terkena imbas paling buruk dari kenaikan harga, tak mampu menyuarakan penderitaannya?.
Tanpa bermaksud menyetujui demo anarkis yang merusak fasilitas publik, tapi bila kita memang tidak setuju dengan format demonstrasi, kenapa tidak beraksi dengan cara lain. Tidak cocok dengan demonstrasi bukan berarti tidak peduli dengan keadaan di sekitar kita kan?. Setidaknya mengkritisi kebijakan dan berpikir implikasinya terhadap golongan yang paling marginal. Bila memang kita benar-benar sadar konsekuensi yang terjadi, bisakah kita tetap diam?. Bila memang tidak menyukai demonstrasi, sebenarnya tersedia format implikatif lain yang bisa diterapkan untuk melakukan perubahan.
Bila memang kita sebagai mahasiswa tak lagi memiliki kepedulian, bila memang kita sebagai mahasiswa hanya peduli terhadap proses konsumsi produk, bila memang kita sebagai mahasiswa, tak lagi tersentuh hatinya melihat ketidakadilan, bila memang kita sebagai mahasiswa, melihat ekspresi dari berpikir kritis adalah sebuah kebodohan. Bila memang kita sebagai mahasiswa, melihat status pendidikan kita hanya sebagai jenjang untuk meraih karir dengan jaminan kesejahteraan finansial. Maka, berterima kasihlah pada para pembayar pajak dari golongan tak mampu, mereka tak mengenal kita, dan tak akan menuntut kita untuk membantu mereka menghadapi kesulitan akibat kebijakan.

Kamis, 09 Februari 2012

VETO RUSIA-CHINA, SEBUAH PESAN?


Draf Resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap Suriah gagal menemui implementasi karena penolakan dua negara anggota tetap Dewan Keamanan, China dan Rusia. Penolakan ini menghasilkan kehebohan besar di negara barat dan Liga Arab yang menginginkan sanksi dijatuhkan terhadap pemerintahan Bashaar Al-Ashaad. Lebih dari 5000 warga dikabarkan tewas dalam berbagai demonstrasi yang terjadi di berbagai penjuru Suriah akibat aksi represif tentara pemerintah. Namun sepertinya Rusia dan China menutup mata terhadap realita yang terjadi di lapangan. Mereka memilih untuk tidak mencegah aksi kejam pemerintah Suriah yang disebut Barrack Obama sebagai “mesin pembunuh” (SM, 07/02/2012).
Veto yang dilakukan oleh Rusia dan China kali ini sebenarnya adalah sebuah langkah yang cukup berani. Dengan menolak resolusi, Rusia dan China seakan memberontak pada otoritas mayoritas pemegang suara PBB yang biasanya tunduk pada kepentingan Barat (Amerika dan Eropa). Hal ini cukup unik, karena tidak biasanya Rusia dan China melakukan penolakan secara terang-terangan pada resolusi Dewan Keamanan kasus terhadap kasus yang sensitif semacam ini. Abstain adalah sikap yang biasanya dipilih oleh kedua negara tersebut untuk menyatakan kenetralan, agar tidak dalam posisi berseberangan dengan anggota DK yang lain.
Indikasi faktor ekonomi di balik penolakan itu begitu menguat di media massa. Rusia adalah eksportir senjata terbesar bagi Suriah dan China adalah importir terbesar ketiga Suriah (SM, 07/02/2012). Alasan hilangnya sumber pendapatan dari perdagangan ekspor-impor tersebut ditengarai sebagai pendorong utama China dan Rusia untuk menolak susunan resolusi yang diajukan oleh Maroko.
Krisis Eropa dan Amerika
China dan Rusia adalah dua negara dengan perekonomian yang stabil bila dibandingkan yang terjadi dalam perekonomian Amerika dan banyak negara Eropa. George Soros menyebutkan, kalau kerusuhan di jalanan Amerika akibat krisis ekonomi akan terjadi (Daily Mail, 25/01/2012). Sementara krisis finansial yang terjadi di zora Euro masih terus membayangi berbagai negara Eropa dan telah memaksa beberapa pemimpin negara mengundurkan diri dari jabatannya. Bila ditilik, kondisi keuangan China cukup stabil dan tidak mengalami kelabilan finansial seperti yang dialami oleh umumnya negara barat tersebut. Kondisi keuangan Rusia sendiri diindikasikan mengalami kemunduran, walaupun tidak separah seperti yang dialami oleh zona Euro dan krisis perbankan Amerika.
Kemajuan ekonomi China dari industrialisasi yang sukses dan keberhasilan Vladimir Putin membebaskan Rusia dari hutang IMF memberikan implikasi menguatnya kedua negara tersebut di bidang ekonomi.
Persaingan antar negara
Kemunduran ekonomi oleh negara promotor draf resolusi sanksi terhadap Suriah sebenarnya menjadi salah satu indikator penting peta kekuatan antar negara. Peta persaingan antar negara ini muncul dalam berbagai aspek dan sangat dipengaruhi oleh kekuatan masing masing pemerintah. Dalam sejarahnya, salah satu persaingan yang membekas hingga kini adalah persaingan warisan era Perang Dingin antara blok negara Komunis dan blok negara Liberal.
Persaingan lama antara negara liberal di Barat dengan China dan Rusia di Timur mencapai bentuk terbaru. Penempatan rudal NATO di dekat perbatasan Rusia memicu reaksi berupa protes Rusia karena kekhawatiran ancaman keamanan terhadap negerinya. Perebutan pengaruh antara Eropa Barat dan Rusia juga sebenarnya masih terjadi secara kuat di berbagai negara Eropa Timur. Kasus invasi Rusia ke Georgia pada tahun 2008 adalah bukti bagaimana sebenarnya perebutan pengaruh antara Barat dan Rusia berlangsung panas di titik geografis tertentu.
Di sisi lain, China yang mengklaim Taiwan sebagai bagian dari Republik selalu bermusuhan dengan berbagai negara yang tidak mengakui kebijakan “satu China”. China sangat sensitif dan tegas bila menyangkut Taiwan. Di sisi lain militer Amerika Serikat dan NATO menjalin kerja sama erat dengan militer Taiwan untuk bersiaga menghadapi China. Mayoritas negara-negara Eropa pun mengakui eksistensi Taiwan sebagai negara yang terpisah dari China.
Persebaran prajurit Amerika Serikat dan NATO di berbagai pangkalan militer di Asia (Filipina, Taiwan, Jepang, Korea Selatan dll) juga mencerminkan bagaimana konstelasi yang berkembang di kawasan selalu dipenuhi dengan kewaspadaan. Hal ini dikarenakan penempatan barak militer tersebut adalah bukti tindakan preventif negara Barat terhadap kemungkinan terburuk yang terjadi di kawasan. Efektivitas pangkalan militer sebagai tindakan preventif ini terbukti dengan dipakainya barak militer di Kuwait dan Arab Saudi dalam invasi ke Afghanistan pada 2001 dan Irak pada 2003. Rusia sendiri semenjak pakta Warsawa berakhir tahun 1991 tidak memiliki aliansi militer sekuat NATO.
Suriah sendiri menjadi salah satu dari sedikit negara di kawasan Timur Tengah yang tidak termasuk di bawah pengaruh AS dan NATO. Tidak seperti negara tetangganya Irak, Arab Saudi, Kuwait dan Jordania. Suriah bisa dibilang negara yang kesepian di kawasan dan tidak terlalu akur dengan tetangganya.
Peta kekuatan geopolitis baru?
Kasus yang menimpa Suriah adalah sebuah bidak dalam percaturan politik dan kepentingan Internasional. Draf Resolusi DK PBB yang hampir selalu dibuat dan diputuskan berdasar kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya kini mendapat pesan keras dari Rusia dan China. Penolakan terhadap draf resolusi sanksi yang dilakukan kira-kira memiliki pesan “Kami juga mampu dan memiliki otoritas untuk mengatur apa yang terjadi di negara lain, tidak kalian saja”. Kehadiran China dan Rusia sebagai anggota tetap Dewan Keamanan memberikan kartu truf berupa hak veto yang mampu menggugurkan usaha negara lain melahirkan resolusi.
Melemahnya ekonomi yang terjadi di Dunia Barat dan menguatnya perekonomian (terutama) China dan Rusia dalam empat tahun terakhir memberikan peluang dua negara tersebut untuk menunjukkan taring di panggung internasional bernama PBB. Walaupun pemerintah China dan Rusia tidak bisa dibilang dekat, namun dalam hal kecurigaan oleh pihak Barat mereka bisa dikatakan senasib. Momentum keruntuhan ekonomi Amerika dan Eropa memberikan mereka peluang untuk unjuk otot di saat yang memungkinkan. Pesan yang disampaikan ini sebenarnya bisa dibaca sebagai sebuah peringatan dari China dan Rusia terhadap dominasi negara Barat yang semakin kuat dalam berbagai masalah internasional.
Isu Suriah sudah meninggalkan masalah akar rumput sebagai kasus pelanggaran HAM oleh pemerintah Bashaar Al-Asaad. Isu ini telah bergulir menjadi kartu judi pertaruhan perebutan pengaruh antar negara besar di PBB. Dalam hal ini tentu yang menjadi korban utama adalah para demonstran di jalanan di berbagai kota Suriah yang menuntut kemerdekaan dari rezim militer. Ribuan dari mereka telah tiada, dan kemungkinan besar akan bertambah karena pembatalan draft resolusi yang ada.